Indonesia / Social Commentary

Yang tak lagi tabu.

Teacher Explaining Female Reproductive System

ca. 1948 — A teacher points to a diagram of female reproductive organs projected on a screen in a classroom in a scene from Human Growth, an education film on sex education shown to students in Oregon junior high schools beginning in 1948. — CORBIS

Apaan deh, tiba-tiba nulis tentang ini?

Gini, beberapa tahun belakangan saya seringkali terlanjur gemas dengan cerita yang saya dengar seputar pengalaman laki-laki maupun perempuan dengan organ reproduksi mereka. Dari mulai yang terlanjur hamil ataupun nggak hamil-hamil, terlanjur sakit, salah posisi sampai yang terlambat ditangani. Saya yakin deh, kalian juga pasti pernah dengar atau mungkin menghadapi sendiri persoalan seputar topik ini. Dan biasanya berujung dengan kalimat ini “If only I know sooner/ better.dan disambung dengan  “semua ada hikmahnya.”

Saya cukup senang sih sejalan dengan waktu sepertinya semakin banyak yang sadar kesehatan. Kesehatan kulit misalnya, berapa banyak blog perawatan kulit di dunia ini, kesehatan tubuh lewat nutrisi dan olah raga, juga banyak banget. Yang kemudian seringkali kelewatan malah yang satu ini, kesehatan reproduksi wanita. Lah, bisa gitu? Entahlah, madingnya udah terbit berkali-kali, dan ratusan purnama telah berlalu urusannya masih tabu lagi atau abstinence lagi.

Menurut saya nih, terlepas dari soal tabu, berapapun umur kita, sudah berhubungan seksual atau belum, hamil ataupun tidak, menikah ataupun tidak, perempuan wajib dan berhak mengetahui kesehatan reproduksinya. Hai dengar semua para OBGYN seantero Indonesia.

Saya pribadi menyayangkan anggapan bahwa perempuan hanya boleh/bisa periksa kesehatan seks dan reproduksi setelah menikah. Candaan murahan macam apa ini? Terakhir saya tahu, ‘menikah’ itu bukan terminologi medis. Saya sendiri pengalaman periksa di Indonesia, Singapura dan Belanda dan cuma di Indonesia, ketika antri ke OBGYN, suster yang menangani administrasi berteriak bertanya apakah Saudari sudah menikah atau belum sebagai pertanyaan pertamanya. Disitu saya merasa sedih. Sampai sekarang saya masih cari ginekolog yang ramah pada wanita belum menikah (karena wanita belum menikah itu sekadar remahan rengginang saja di muka dunia ini) siapa tau teman-teman ada rekomendasi?

Anyway, meski keadaan pelayanan medis di Indonesia begitulah adanya ya. Jangan patah arang ataupun malu bertanya. Karena nanti sesat dijalan yang rimbanya bisa bikin perang dunia. Karena, seperti saya katakan sebelumnya, berapapun umur kita, sudah berhubungan seksual atau belum, hamil ataupun tidak, menikah ataupun tidak, perempuan (dan laki-laki) wajib dan berhak mengetahui kesehatan reproduksinya.

Terus gimana caranya? 

#1 Sortir dan periksa ulang apapun itu ‘katanya’.

Katanya ya pil KB itu bikin vagina kering loh. Katanya pil KB bikin susah hamil nantinya. Katanya banyak makan produk olahan kedelai bikin kesuburan menurun loh. Katanya makan nanas bikin keputihan. Katanya berhubungan pertama kali akan berdarah-darah. Katanya ketika menstruasi ngga boleh berenang. Katanya pil KB di Indonesia susah dapetnya. Dan sejuta ‘katanya’ yang lain. Jangan malas cek ulang informasi-informasi yang ‘katanya’ itu ya!

#2 Jadi, apa aja nih yang perlu diketahui?

Sejujurnya waktu masih (lebih) muda saya sempat bingung juga, apa aja sih yang perlu saya tahu tentang kesehatan organ seks dan reproduksi? Mulai dari mana? Saran saya mulai dari bentuk dan nama-nama organ saja dulu lah, dari situ topiknya bisa berkembang banyak sekali. Sejalan dengan waktu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan terjawab lewat membaca buku atau artikel kesehatan dan ngobrol dengan dokter dan suster yang sering menangani konsultasi kesehatan organ seks dan kesehatan reproduksi. Biasanya sih di RS besar mesti ada. Atau di klinik kesehatan seksual seperti AngsaMerah.

Kebetulan saya nemu infografik ini nih yang bisa jadi pedoman, meski peruntukannya untuk keperluan parenting, sepertinya sih buat siapa aja bisa kepake kok. Mudah-mudahan bisa jadi point of reference ya untuk menjawab apa aja yang perlu diketahui.

the-new-sex-ed-1

#3 Gnothi seauton

Kenalilah dirimu. Klise ya. Tapi ya memang tiap orang kan berbeda-beda, pola hidupnya, pola pikirnya, bentuknya, panjangnya #eh. Dari hal simpel dari memperhatikan jadwal menstruasi , menjaga kebersihan dan pola makan, pemeriksaan reguler sampai vaksin-vaksin khusus misalnya. Karena toh ujung-ujungnya badan-badan kita kok, yang bisa jaga ya kita sendiri.

Ngomong-ngomong soal jaga diri, sudah periksa payudara sendiri kah bulan ini?

fdd18d58b9a464dc65e44baeef4ebbd6

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Yang tak lagi tabu.

  1. Di Indo kebanyakan tabu sih ngomongin masalah ini sebelum menikah ya… aku dong ke dokter kandungan karena masalah hormonal eh komentar nya “kapan kawin? ayo cepet2 yaa”! Asli pressure disuruh cepet kawin sama dokter sendiri hahahaha

  2. Eh tapi beneran lho.. ada temen aku yang bermasalah dengan rahimnya, masih single, dikasih tahu ama dokternya, penyakitmu sembuh kalau melahirkan.. haduh.. dikira gampang kali yah cari suami dalam sekejap mata terus hamil gitu?

  3. Nah ini, setuju banget nih aku! Sayangnya cewek-cewek yang belum nikah susah banget dapet informasi yang legit tentang rahim dan alat reproduksi sendiri. Aku jadi inget, punya temen yang sekolah di NZ, ke Indonesia dalam rangka menikah… nah di Indonesia, pil KB dia abis (dia emang udah on pill untuk alasan medis sejak di NZ), terus pas ke dokter di Indonesia, harga pil KB merek yang dia pake naik banget jadi beratus-ratus ribu rupiah, dan dapetinnya juga susah banget karena pil KB hanya untuk pasangan yang udah nikah. Kan ngeselin -_-

  4. Ini nih yang aku juga aminin waktu nggak ngerti apa2 dl, Katanya makan nanas bikin keputihan. Katanya berhubungan pertama kali akan berdarah-darah. Katanya ketika menstruasi ngga boleh berenang….sampe mengerti sendiri dan banyak dengar juga dari teman2 yang sangat terbuka ttg kehidupan sex mereka. Emang banyak doktrin2 menyesatkan sih ya..kesal banget..terutama ttg yang berdarah2 di malam pertama itu loh 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s