Personal

Mimpi besar, kecil, pendek, panjang …

dream-often

Orang bilang ngehayal itu paling gampang dan gratisan. Bisa mimpiin apa saja, kan? Ngga ada yang membatasi kecuali kemampuan imajinasi sendiri. Orang juga bilang jangan pernah berhenti bermimpi. Orang sering juga bilang bermimpilah setinggi langit.

Dulu sewaktu SD saya menuliskan cita-cita keliling dunia dan jadi astronot di buku profil teman-teman, lengkap dengan gambar globe dan bintang-bintang bertaburan. Riang saja dan ringan.

Semasa universitas dan beberapa tahun setelahnya tercapai juga cita-cita traveling ke lumayan banyak tempat. Ada yang alasannya sekedar penasaran dengan sesuatu negara, ikut lomba, magang, pekerjaan, liburan, reward after work, pelatihan, dapat grant, summer work, bahkan wawancara pekerjaan dan kerja pun pernah. Berbagai gaya travelling juga sudah dicoba, ngegembel atau istilah keren masa kini backpacking, iya, travelling agak mewah yuk, yang mewah banget (nggak kayak Syahrini lah ya) pernah lah sekali dua kali sih. Travelling sendiri, iya. Travelling rame-rame hayuk.  Yang jarang memang berlibur sama keluarga sih, karena (sok) sibuk semua. Tapi ya, bersyukur banget saya dengan pengalaman-pengalaman yang sudah saya lalui.

Sekarang saya yang berumur 30an awal ini merasa semacam mandek. What else is there to do? Mau ngehayal apa lagi nih? Kutipan-kutipan yang beredar di Internet kan selalu tuh, Dream Big! Dream Big!. Tapi sejujurnya saya sudah ngga ngerti lagi mau punya mimpi sebesar apa. Lain lagi bunyi kutipan atau cerita dari sisi feminis dan koar-koar ’empowerment’, You can be anything/anyone you want to be! You should be! Strive! Be Independent, Be Happy and strong woman! gitu kan. Kalau di lapak tetangga bunyinya lain lagi, Sudah waktunya menikah kamu, berkeluarga, raise a kid. Atau, piknik gih sono! Travelling kek apa gitu. Masih banyak tempat yang asik untuk dikunjungi loh! Atau lebih dahsyatnya… mulai usaha sendiri aja, Ceu.

Atau ya, sebenarnya gampangnya berkubang aja kerja-kerja-kerja, menyibukkan diri supaya nggak terasa mandek. (Solusi untuk banyak hal bukan, hehe).

Tapi nggak juga, tuh.

Kemudian saya jadi berfikir kan, ini dunia berisik banget ya, everything is just so loud. Iya, tahu kok punya mimpi itu penting. Iya, tahu kok jadi perempuan juga bisa A-Z,  istilahnya nyiptain abjad baru juga boleh, sok, silakan. Ngga ada yang larang, setidaknya tidak di lingkungan saya. Ngga ada juga yang mengecilkan. Kalau sibuk, iya bisa aja sibuk tapi kemandekan ini ada terus dibelakang kepala. Kalau menyoal berkeluarga, yha, perlu proses juga sih ya, ngga bisa sekedar yuk besok teken buku nikah. Nggak ngoyo lah kalau soal ini. Bikin start up juga juga butuh proses. Perlu energi juga. Intinya, saya lagi merasa semua rasanya berisik sekali. Semua pakai tanda seru dan capslock.

Jadi gimana dong?

Jujur. Belum tahu. Saya sedang mencari untuk merasa terinspirasi lagi. Ngga perlu besar, bombastis ataupun mimpi yang gila banget. Mengumpulkan dan mengerjakan lagi mimpi-mimpi apapun bentuknya yang bisa bikin hati merasa hangat lagi. Mimpi besar, kecil, pendek, panjang …

Untuk teman-teman yang baca blog ini, share dong gimana cara kalian untuk tetap terinspirasi?

 

 

 

Advertisements

One thought on “Mimpi besar, kecil, pendek, panjang …

  1. Baca bukunya Chris Hadfield lalu cita-cita travelling gw yg baru: International Space Shuttle. Haha.. Sama neng, gw juga sekarang mimpi besarnyanya mengelola emosi aja supaya ga stress. Standar dan hoream. Ga membantu ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s