Journal & Travels / Netherlands

Cerita dari Loenen aan de Vecht

*Sekali-sekali posting dalam Bahasa Indonesia.

Screen Shot 2015-06-28 at 6.26.55 PM

Ini penampakan lokasi Loenen aan de Vecht dari GoogleMaps. Utara dikit Amsterdam, Selatan dikit Utrecht. Informasi mengenai Loenen aan de Vecht bisa baca disini (dalam bahasa Belanda).

Sekitaran setahun yang lalu seorang teman kami memutuskan pindah dari Hilversum ke Loenen aan de Vecht. Teman kami ini dosen di HKU dan juga komposer musik. Kami selalu senang kalau diundang berkunjung ke rumahnya karena ada piano di rumahnya dan selalu ada komposisi musik baru yang dia buat. Nah pada suatu hari kami main dan menginap semalam di rumah yang belum lama dia dan kucingnya yang bernama Batman tinggali ini. Kegiatan selama berkunjung ini mencakup bersepeda, piknik di pinggir danau buatan, jalan-jalan di hutan dan di kota (eh desa, eh) nya sendiri, lalu makan malam.

Nama Loenen ini sendiri saya baru dengar ya ketika si teman ini menyebutnya. Kotanya masuk wilayah propinsi Utrecht. Kota, hemm, mungkin lebih cocok disebut ‘town’. Istilah Belandanya sih ‘dorp’. (Apa sih padanan kata ‘town’ di Bahasa Indonesia?) atau malah desa ya? Karena penduduknya sendiri kurang dari 1500 orang saja. Tapi lokasinya nggak desa menurutku. Semangat berkunjung saya semakin hangat karena tahu kalau tempat ini agak off the beaten path dan sangat low key menurut ukuran khalayak kekinian. (Baca: jauh dari jalur kereta NS.)

Belakangan baru tahu kalau Loenen aan de Vecht sendiri adalah semacam kota peristirahatan kalangan elit Amsterdam di abad 17-19. Rumah-rumahnya besar, lengkap dengan taman cantik dan akses ke Vecht berikut perahu-perahunya. Oh tentunya juga dilengkapi rumah teh yang berdiri di halaman kebunnya. Duh, minta digambar banget deh rumah-rumah peristirahatan ini. Di kota ini juga lengkap dengan windmill yang masih berfungsi dan toko-toko kecil cantik. Ada juga sebuah gereja (tentunya) yang menaranya sedang bikin waswas warganya karena udah mulai miring-miring kayak mau rubuh. Baru-baru ini mereka melakukan usaha pelestarian (dan pengamanan) dengan cara mencabut beberapa baris bata dari menara gereja tersebut supaya kembali seimbang. Menarik ya solusi yang diambil ini.

Tidak jauh dari situ ada empat danau buatan yang termasuk Natuurmonumenten. Menurut cerita komposer yang lulusan Biologi ini, kualitas airnya bintang tiga. Apa tuh bintang tiga? Kualitas paling sip dan siap minum katanya sih. Baiklah. Tapi kami belum coba minum sih, mungkin lain kali ya. Di danau ini juga keanekaragaman hayatinya juga menarik – kami melihat beberapa hewan Crustacea mirip lobster tapi mini jalan-jalan di pinggir danau sembari diendusin anjing yang dimiliki warga sekitar, hihi. Danau ini juga suka dipakai berenang dan kayak, lumayan bisa berenang ke sisi danau lain hanya 2 km saja. Kalau ngga suka atau nggak kuat berenang, bersepeda atau lari keliling dan lintas danau juga bisa jadi aktifitas yang menarik.

Meski apa yang saya deskripsikan tentang Loenen ini terdengar seperti tempat yang potensial sebagai tujuan turis, Loenen sama sekali nggak turistik. Sisi-sisi Vecht yang cantik nggak lantas ramai restoran dan atraksi. Tempatnya tetap kalem dan adem.

Foto-foto diambil oleh J.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s